

Membicarakan hal ini mungkin bukanlah sesuatu yang menarik, sebab kita selalu menggunakannya keseharian tanpa harus bertanya ini dan itu. Namun bagaimana jadinya bila kita ‘kebelet’ buang air kecil atau besar di jalan raya atau jalan besar di Jakarta ? Masalahnya, kita belum tentu tahu dimana kakus paling dekat dengan keberadaan kita. Kebanyakan masyarakat akan mencari pom bensin yang pastinya menyediakan kakus.
Ada dua hal yang melatarbelakangi mengapa tulisan ini muncul. Pertama, saat berjalan kaki menyusuri trotoar Jl. Gunung Sahari ke arah Pasar Baru di mana pada sisi kiri mengalir kali yang sangat keruh berwarna coklat-kehitaman. Dikarenakan ini memang salah satu wajah Jakarta, terpaksa harus dinikmati. Sampai pada satu titik di trotoar itu, tiba-tiba dari bawah tembok yang membatasi kali, muncullah seorang lelaki kumal yang langsung menarik celananya ke atas dan mengancingnya. Dalam benak sempat terlintas, mengapa bisa seseorang buang air besar di sebuah kali dengan begitu nyamannya, padahal hampir setiap orang memungkinkan untuk bisa melihatnya.
Hal yang kedua, adalah adegan di film Jasmine Women karya Yong Hu yang dibintangi Zhang Ziyi, di mana Li - anak seorang perempuan kaya – menikahi seorang pemuda miskin, Xia Du dan tinggal dengan mertuanya. Saat adegan hendak tidur malam, Xia Du memasukan tong kayu yang tertutup di mana benda tersebut adalah tempat buang hajat di pagi hari. Hal ini disebabkan rumah masyarakat China umumnya tidak memiliki kakus. Pada saat itu Li merasa keberatan, terutama dengan baunya dan juga ia mangatakan bahwa membuang hajat di tong kayu dan dilakukan di dalam kamar tidur bukanlah kebiasaannya. Menurut cerita beberapa kawan yang sempat tinggal di Beijing, masayrakat Cina sekarang ini masih banyak yang tidak memiliki kakus di rumahnya sehingga saat mal-mal buka di pagi hari, antrian masyarakat yang ingin buang hajat tidak dapat terhindarkan.
Sebuah kota kecil bernama Parakan di kaki Gunung Sumbing, Jawa Tengah adalah tempat penulis dibesarkan. Hampir beberapa puluh meter sekali ada penduduk setempat membangun bilik-bilik kakus yang bisa digunakan oleh siapapun. Sedangkan pembuangan yang digunakan adalah aliran selokan dengan air yang mengalir deras. Masyarakat dari sekitar kota Parakan biasanya bisa mengetahui bahwa kakus-kakus biasanya berlokasi di belakang jalan-jalan utama (sudah masuk ke perkampungan).
Dengan bercucuran air mata, Oscar Schindler masih melontarkan penyesalannya sebab menurutnya masih banyak kaum Yahudi yang bisa diselamatkan bila saja ia mau menjual cincinnya atau bahkan mobilnya. Namun Itzhak Stern – asistennya dan salah seorang Yahudi yang diselamatkannya – menenangkannya dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Oscar Schindler itu sudah lei dari cukup bahkan bila saja yang diselamatkan hanya satu orang, maka ia telah menyelamatkan dunia.
Cuplikan dari film Scindler’s List (1993) karya Steven Spielberg tercermin saat Evo Morales, Presiden Bolivia menunggui proses penyelamatan seorang pekerja tambang (warga negaranya) yang terjebak selama 69 hari di Chile. Morales tidak sendiri, ada Sebastian Pinera, Presiden Chile yang terus-menerus memonitor kondisi para pekerja tambang bahkan menunggui saat penyelamatannya. Dikurangi warga Bolivia, maka ada 32 warganya yang terkubur hidup-hidup sedalam 700 meter di area operasi tambang San Jose, dekat Copiapo, Chile.
Peristiwa ini menjadi inspirasi bagi dunia. Dalam kisruh politik yang sudah mengakar ataupun dalam hidup yang dikuasai ekonomi yang sudah menjadi karat, maka rasa kemanusiaan tetap menjadi flamboyan dalam kehidupan manusia. Sampai-sampai dalam sebuah stasiun televisi swasta dua orang budayawan Komarudin Hidayat dan Romo Mudji Soetrisno sampai menjelaskan bahwa peristiwa inspiratif ini akan lewat begitu saja, sebab pada kenyataannya rakyat Indonesia akan kembali ke karakter semula yaitu rakyat yang telah kehilangan sensitivitasnya. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Dikarenakan di dalam segitiga antara pendidikan, hukum dan keteladanan, maka Indonesia bermasalah pada ketiganya. Hukum sedang berada dalam kondisi yang carut-marut, mencari pemimpin yang bisa dijadikan suri tauladan yang baik serta pendidikan sebagai tempat berproses lebih banyak mengajarkan bagian pikirannya dan ‘area’ hati (perasaaannya) jarang diberi pendidikan. Hal inilah yang menjadi sumber hilangnya sensitivitas dalam hati rakyat Indonesia.
Apakah Indonesia bisa punya presiden yang mau menunggui rakyatnya yang sedang celaka ? Kita akan selalu ingat bahwa banyak buruh migran yang dibiarkan dihajar majikannya, diperas oleh bangsanya dan sebagainya. Saat bencana datang di tanah Papua, presiden justru lebih sibuk menyangkal sebab-musabab terjadinya banjir bandang di Wasior dibanding langsung terbang ke sana untuk mengunjungi para korban. Para wakil rakyatnya juga lebih sibuk berpolemik tentang pemilihan Kapolri dibandingkan memberi contoh untuk rakyatnya bagaimana caranya berempati yang baik kepada saudara-saudara yang tertimpa bencana.
Kalau keluarga para pekerja tambang melawan cuaca ekstrem gurun dengan membuat basecamp tempat menunggu yang diberi nama ‘Esperanza’ (berarti Harapan). Apakah harapan masih ada di negeri ini ? Semoga. Tabik.
NASI UDUK ‘KUNTILANAK’
Bila membaca mendengar namanya mungkin akan terasa seram. Kenapa dinamai demikian, kabarnya awalnya adalah warung tenda yang posisi berjualannya sangat dekat dengan Taman Pemakaman Umum – Menteng Pulo, Jakarta Selatan dan baru buka sekitar pukul 12 malam atau 24.00 WIB, sehingga hal inilah yang menyebabkan para pelanggan awalnya menyebut warung tersebut dengan embel-embel kuntilanak. Pelanggan awalnya adalah para pedagang Pasar Jembatan Merah di dekat Jl. DR. Sahardjo, namun seiring pelanggannya bertambah banyak sehingga membutuhkan ruang yang lebih besar, akhirnya warung itu pindah lebih dekat ke pasar dengan menempati bangunan permanen.
Keunikan nasi uduk ini adalah bentuknya yang seperti warung nasi biasa, di mana lauknya sangat beragam dari mulai telur kecap, telur balado, rendang, semur jengkol, semur tahu, gorengan dan sebagainya. Hanya saja, nasi putih yang biasa disajikan oleh warung nasi biasa diganti dengan nasi uduk yang satu porsinya berharga Rp. 4.000,-. Sangat terjangkau untuk kalangan bawah. Saat saya mencoba mencicipi dengan ditambah lauk sate ati-ampela, telor kecap dan semur tahu, harga yang dikenai hanya Rp. 14.000,- dan bagi mereka yang ingin mencoba kuliner malam hari, boleh dicoba Nasi Uduk ‘Kuntilanak’ ini. Sekali posisi ada di tengah-tengah Jl. Menteng Pulo, kalau anda dari Jl. DR. Sahardjo yang ke arah Manggarai anda berbelok ke kiri masuk ke Jl. Menteng Pulo tersebut, berjalanlah terus sampai melewati pasar Jembatan Merah, warung dengan tembok di dalamnya serta tendanya berwarna biru. Selamat menikmati. Tabik.
BUBUR AYAM JL. SALAK
Sebagai sebuah makanan, bisa jadi bubur ayam tidaklah istimewa. Akan tetapi bagi yang pernah tinggal di wilayah Kelurahan Guntur dan sekitarnya pasti pernah merasakan Bubur Ayam Jl. Salak. Bubur yang untuk ukuran masyarakat kecil sebenarnya cukup mahal, namun sampai dari banyak penghuni dan mantan penghuni di sekitar Guntur tersebut, ternyata masih banyak yang sulit melupakan cita rasanya.
Saat reuni SDN Guntur 04 Pagi, Jakarta di bilangan Cikini Raya, beberapa kawan masih menanyakan keberadaan bubur ayam tersebut. Lalu kawan-kawan yang masih menjadi pelanggan atau rumahnya masih dekat dengan penjual bubur tersebut dengan serta-merta langsung bilang bahwa bubur itu masih buka, namun yang menjalankan adalah anaknya yang bernama Mas Alex.
Di masa lalu, bubur ini buka pada dua waktu yaitu pagi hari dan sore hari. Namun menurut kabar, sekarang mereka buka dari pagi hingga malam hari. Keistimewaan bubur ini adalah porsinya yang banyak baik buburnya sendiri, lalu cakwe-nya bahkan ayam suir-nya. Ada yang berbeda pada waktu itu adalah ditambahkannya kuning telur ayam kampung mentah di bubur panas yang kemudian dikocok atau bila tidak suka bisa ditambah dengan ati-ampela goreng yang dipotong-potong. Namun, pada akhir racikan, bubur ayam ini selalu memberi loba yang dipotong kecil-kecil dan menyerupai asinan. Untuk satu porsi yang bubur ayam dengan telur ayam kampung kita cukup mengeluarkan Rp. 8.000,- sedangkan untuk menu special, komplit dengan ati-ampela harganya Rp. 14.000,-.
Memang racikan bubur model ini sekarang sudah banyak dijumpai, namun nilai historis tidak bisa digantikan. Walaupun Jl. Kawi sudah sepi, rumah di ujung sudah berganti Namarina Ballet, namun bubur ini tetap menjadi nostalgia para penghuni dan mantan penghuninya.
Selamat mencoba. Tabik
Akhir-akhir ini kerusuhan Pemilukada di daerah-daerah semakin mengkhawatirkan. Sedikit saja provokasi kerusuhan bisa meledak kuat bahkan sampai terjadi pembakaran di sejumlah tempat seperti yang terjadi di Mojokerto. Ada yang karena jagoannya tidak lolos verifikasi, skandal penghitungan ulang yang tidak transparan atau karena alasan konyol lainnya. Inikah cerminan budaya timur yang didengung-dengungkan para kaum moralis ? Lalu di mana mereka sekarang ?
Ada kekhawatiran yang menguat, yaitu bahwa kerusuhan ini memang sengaja dibiarkan, seperti halnya kasus tabung gas 3 kg. Kesengajaan ini supaya pemilihan kepala daerah tidak langsung lagi alias pemilihan oleh wakil rakyat seperti sebelum 2004. Dengan demikian aspirasi rakyat akan tersumbat lagi mereka tidak bisa memilih siapa-siapa yang dianggap layak memimpin wilayahnya. Namun ini hanya sebatas kekhawatiran, semoga tidak terjadi nantinya. Tabik
SEBUAH REUNI LAINNYA
Hari Jum’at seorang sahabat bernama Rachmat Nugroho menghubungi dan mengajak menonton pertandingan Inggris melawan Jerman di sebuah tempat. Ternyata pertandingan pertama perdelapan adalah Korea Selatan melawan Uruguay, padahal tempat pertemuan sudah ditentukan yaitu Cilandak Town Square (Citos). Akhirnya diputuskan untuk bertemu di sana, ditambah Ichwan Wahyudi. Dari kecil kami memang menggemari sepak bola, bahkan Rachmat dan Ichwan seringkali menonton pertandingan-pertandingan yang digelar di Gelora Bung Karno apalagi kalau tim Indonesia berlaga.
Sore menjelang malam hari menyusuri Taman Ismail Marzuki berharap bisa mendapatkan bus yang bisa mengantar ke sana dan pastinya Kopaja P20 jurusan Lebak Bulus. Tidak lama bus itupun datang dan dengan keikhlasan dan kesabaran menikmati keruh kota Jakarta di malam ini. Sampai tiba saatnya ketika terkena lampu merah di wilayah Cilandak, akhirnya harus rela dioper ke bus P20 lain yang menuju Lebak Bulus, karena bus yang saya tumpangi akan memutar lagi ke arah Pasar Senen. Seharusnya untuk manusia yang tinggal di Jakarta, sumpah serapah akan keluar. Namun karena kebetulan sedang tidak terburu-buru, akhirnya menikmati juga operan itu. Sambil tergopoh-gopoh menaiki bus yang satu lagi dan kejutannya adalah bus yang baru saja dinaiki memilih masuk tol dalam kota dan wal-hasil Citos dilewati dengan sempurna tanpa bisa turun di seberangnya. Setelah berhasil turun di Giant, Lebak Bulus, maka pilihan jatuh pada bus 509 jurusan Kampung Rambutan. Tentu saja perlu dipastikan dulu apakah lewat depan Citos atau masuk tol lagi. Ternyata memang lewat depan Citos dan turun dengan perasaan lega.
Dua sahabat telah menunggu di gerbang Citos dan setelah menyusuri lorong besar penuh bangku dan layar besar, akhirnya diputuskan kami duduk di Black Canyon Coffee yang sudah menentukan harga minimum pemesanan per orang adalah Rp. 80.000,-. Kami menyetujuinya dan jadilah menonton bola bersama ini sebuah reuni lain di antara reuni-reuni yang telah diadakan semenjak tahun 2008. Pertandingan bola hanyalah perantara untuk kami bertemu, di mana kata sibuk atau tidak punya waktu selalu menjadi dalih untuk mengganti kata malas atau enggan.
Sebenarnya ada sahabat lain yang hendak menyusul, yaitu Moehammad Loethfi. Hanya saja kendaraannya masih mogok di Jl. Margonda, Depok. Tentu saja akhirnya reuni ini hanya bertiga saja tanpa Loethfi. Waktu telah menunjukkan pukul 23.30 WIB, Ichwan dan Rachmat hendak berkeberatan meneruskan sampai pertandingan kedua antara Ghana melawan Amerika Serikat. Akhirnya kami memutuskan pulang untuk berjanji lagi berkumpul pada pertandingan Argentina melawan Inggris atau Jerman dalam perempat final. Dalam hati ada perasaan geli, sepertinya kami ini Tuhan yang bisa menentukan bahwa Meksiko akan kalah dari Argentina. Tapi sudahlah, janji untuk berkumpul lagi menjadi menarik sebagai rangkaian reuni lain yang menjadi bagian kecil dari hidup kami.
Tabik.
KETAN SUSU KEMAYORAN
Tempat nongkrong ini mungkin menjual penganan yang sedikit aneh di lidah. Sederhana sekali hanya sepiring kecil ketan putih yang ditaburi kelapa dan dikucuri susu kental manis. Makanan ini memiliki lauk, yaitu gorengan (tempe, pisang, ubi dan sebagainya) serta biasanya akan disajikan dengan minuman teh poci. Tempe gorengnya pun juga akan ditemani cabe rawit. Jadi kalau yang belum terbiasa dengan sajian ini, bayangan rasanya pasti akan bertabrakan satu sama lain. Yang satu manis dan yang lain gurih terkadang plus pedas.
Mungkin semenjak berdiri sudah lebih dari sejuta orang yang menyambangi tempat ini, sebab situasinya selalu ramai setiap malamnya. Memang warung ini sudah buka sejak sore hari sekitar pukul 15.00 WIB dan akan tutup sekitar pukul 04.00 WIB (dinihari) pada keesokan harinya. Saking ramainya, sering sekali pembeli yang ingin makan ketan susu memilih untuk dibawa pulang.
Tempat makannya seperti yang ada di warung-warung pada umumnya, yaitu bangku kayu yang berada di depan penjualnya, beberapa deret bangku tanpa meja di samping warung dan beberapa bangku dengan meja di depan warung. Akan tetapi saat ramai, banyak pengunjung yang lebih memilih menikmatinya di depan toko kelontong yang sudah tutup atau di pembatas jalan seberang warung tersebut.
Untuk harga tentu saja sangat terjangkau, yaitu Rp 3.000,- untuk ketan susu, Rp 500,- untuk gorengan dan teh poci hanya dihitung per gelas yang ada gulanya yaitu Rp 2.500,-. Sedangkan hal yang sedikit mengurangi kenyamanan adalah para pengamen yang silih berganti serta nenek-nenek pengemis. Seringkali ketika kita sudah menolak untuk memberi, mereka masih berdiri di depan pengunjung yang terkadang menjadi merasa risih.
Lokasi tempat nongkrong ini berada di Jl. Garuda Ujung, kemayoran. Bila anda dari Pasar Baru, ambil jalan yang mengarah jalan di samping Armada Barat (TNI-AL). Terus saja sampai masuk ke Jl. Garuda dan melewati Alfa Midi di sebelah kiri dan pool Taxi Blue Bird di sebelah kanan, hingga ketemu lampu merah (traffic light) di mana banyak simpang jalan, maka warung tersebut berada di sebelah kanan yang mana biasanya banyak sepeda motor terpakir.
Selamat menikmati keunikan tubrukan rasanya. Tabik.

Tim nasional sepak bola Indonesia hanya mengikuti satu kali pada Piala Dunia FIFA, yang merupakan Piala Dunia 1938 di Perancis, dengan nama Hindia Belanda. Meskipun mereka sekarang independen dari Belanda dan telah berubah nama menjadi Indonesia, FIFA menganggap mereka sebagai tim penerus Hindia Belanda. Hindia Belanda bermain melawan Hungaria di pertandingan pertama dan kalah 0-6. Sistem gugur adalah format yang dipergunakan pada saat itu dan hal ini membuat tim Hindia Belanda memainkan 1 pertandingan saja. Dengan demikian, Hindia Belanda (Indonesia) memegang rekor Piala Dunia FIFA sebagai satu-satunya tim dengan pertandingan yang dimainkan paling sedikit yaitu 1 kali dan salah satu tim dengan paling sedikit mencetak gol yaitu 0.
Skuad Tim Nasional Hindia Belanda (Indonesia) : Tan Mo Heng, Frans Hu Kom, Jack Samuels, Achmad Nawir (c), Alfred Meng, Anwar Sutan, Tan Hong Dijen, Suwarte Sudarmadji, Henk Zomers, Isaac ‘Tjak’ Pattiwael, Hans Taihuttu.
dicuplik dan diterjemahkan dari :
http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia_at_the_FIFA_World_Cup
NASI ‘PERANG’
Istilah ini diambil karena porsi yang ditawarkan oleh penjualnya sangatlah banyak. Berjualan setiap hari di Pasar Kwitang, buka dari pagi hingga sekitar pukul 11.00 WIB.
Sekilas memang tidak ada yang istimewa bila anda mencoba melihat dari dekat. Apalah istimewanya penjual nasi di sebuah pasar. Namun dibandingkan penjual nasi yang lain, tenda ini yang paling ramai.
Awalnya hanya membeli untuk kawan yang sedang membantu tugas ujian. Namun akhirnya sempat menjadi langganan, yang kemudian baru diketahui bahwa untuk porsi ada dua macam ukuran nasi.
Ukuran pertama adalah yang biasa dibeli oleh banyak orang di pasar. Dengan harga Rp. 3.000,- anda sudah bisa menikmati nasi urap dengan lauk tempe jaket dua buah. Takaran nasinya adalah 1,5 centong munjung dan biasanyapara pelanggannya meminta untuk dibungkus dengan cara di’pincuk’ supaya bisa langsung disantap.
Ukuran kedua adalah yang seperti biasa ada di warung-warung nasi. Akan tetapi porsi nasinya ‘Masya Allah’ banyaknya kalo anda tidak bilang dikurangi maka satu porsi nasi tersebut adalah 3,5 centong nasi munjung dan bila ditambah dengan lauk-pauk maka pembungkusnya selalu saja tidak muat. Porsi ini cukup dimakan bertiga dan lumayan kenyang. Contoh digambar adalah porsi nasi yang banyaknya 40 % dari sajian sebenarnya ditambah tumis kangkung, acar kuning, sambel goreng tongkol pindang, dua buah bakwan jagung dan sepotong telur dadar. Harganya sangat-sangat terjangkau selain mengenyangkan yaitu Rp. 7.000,- saja.
Warung ini menyediakan banyak variasi menu dari mulai beragam sayur (urap, sambel goreng, tumis kangkung, acar kuning dsb) dan bermacam gorengan (ikan asin, bakwan jagung, tempe goreng, tahu goreng, telur dadar dll). Contoh unik adalah saat memotong telur dadar, ibu penjualnya seringkali tidak menggunakan pisau agar simetris namun sering menggunakan centong nasi sehingga ukurannya seringkali jauh lebih besar dari yang kita inginkan. Belum lagi sebelum mengikat dengan karet nasi yang kita pesan, ibu penjual itu seringkali secara tiba-tiba mengambil gorengan dan memasukkannya ke dalam bungkusan, namun anehnya harga tidak bertambah.
Lokasinya adalah di dalam Pasar Kwitang, bila anda dari Jl. Kramat III jalan lurus terus sampai mentok di Apotek Emelia lalu belok ke kanan (Jl. Listrik V) kira-kira 5 meter, di mana warungnya ada di sebelah kiri. Silakan berburu dan menikmati. Tabik.
WARUNG BELEK
Warung nasi ini terletak di Jl. Pasar Ratna, Kelurahan Guntur, Jakarta Selatan. Tidak pernah diketahui mengapa namanya Belek. Namun jangan tertipu dengan namanya sebab menu yang ditawarkan walaupun sederhana tetapi sangat digemari oleh penghuni wilayah Guntur dan sekitarnya. Bahkan mantan penghuni yang sekarang sudah pindah ke tempat lain. Andalan warung makan ini adalah tempe jaket (goreng tempe yang diberi tepung) dan telur dadar.
Ada keunikan dalam membagi waktu antara kedua menu andalan tersebut, yaitu goreng tempe akan disajikan dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Sedangkan telur dadar akan disajikan sebaliknya yaitu pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB. Keunikan lain adalah warung makan ini memiliki cabang yang menyajikan menu yang sama, tetapi lokasinya hanya beberapa puluh meter dari warung awalnya. Masyarakat sekitar menyebutnya Belek I dan Belek II.
Fokus ke menu telur dadar. Telur yang digunakan adalah telur bebek yang diberi terigu dan irisan daun bawang. Sekali menggoreng dua telur yang kemudian akan dibelah menjadi dua. Keunikan lain adalah waktu menggorengnya. Sebelum sekarang ini, Belek I dan Belek II menggoreng telur pada waktu yang bersamaan yaitu pukul 18.00 WIB, 22.00 WIB dan 02.00 WIB dini hari. Kalau jatah menggoreng sudah habis jangan pernah memaksa mereka untuk menggoreng lagi, sebab mereka tidak akan mau menuruti. Sekarang ini Belek I sedikit menggeser jam menggoreng untuk malam hari menjadi pukul 23.00 WIB, jadi bisa bergantian dengan Belek II.
Untuk sayurnya, lebih banyak menu sambel goreng dari mulai daging, telur bulat, tahu dan sebagainya. Sedangkan menu lain sebagai lauk adalah perkedel, ikan tongkol goreng dll. Akan tetapi kebanyakan orang yang datang di malam hari selalu menunggu telur dadarnya yang akan disantap dengan kuah sambel goreng daging dengan cabai rawit, kecap dan garam sebagai penyedap rasanya. Harganya, satu porsi nasi dan telur dadar adalah Rp. 5.000,-. Sangat-sangat terjangkau.
Untuk informasi lokasinya, silakancari Jl. Guntur dan masuk terus sampai mentok, lalu belok ke kiri, maka anda akan menemukan Belek II (warung berwarna hijau) terlebih dahulu di samping warung kopi dan mie instant. Untuk mencapai Belek I maka anda tinggal lurus hingga sebelum masuk ke gang kecil, warungnya berwarna abu-abu kusam, di samping tukang pulsa dan penjahit. Selamat mencoba. Tabik.
Wrong Drive …. Going Nowhere